Selamat Datang di Gereja Paroki St Yosef Duri . . . . . Welcome to St Yosef Parish Church Duri - INDONESIA
Selamat Datang dan Terima kasih telah mengunjungi situs Gereja Katolik Paroki St.Yosef - Duri, Riau Indonesia. Menjadi Gereja yang Mandiri dan Berbuah, itulah Visi dan Misi Gereja Paroki St Yosef Duri, oleh karena itu peran serta aktif umat dalam pewartaan adalah sesuatu yang sangat diperlukan, untuk itu apabila Saudara-Saudari berminat untuk menyumbangkan pikiran, tenaga, ketrampilan, pengetahuan, dana, waktu dan bantuan apapun termasuk komentar dan usulan, silahkan hubungi kami di: gerejaparokistyosef@gmail.com.
Puasa & Pantang Katolik

MENGAPA KITA BERPUASA?
1. Berpuasa mempertajam mata rohani kita - membantu kita melihat apa yang Tuhan lihat.
2. Berpuasa berarti semakin serupa dengan Kristus, yang sering kali berpuasa.
3. Berpuasa adalah cara yang baik guna mengingatkan kita untuk berdoa, sebagai ganti makan.
4. Berpuasa membantu kita mengurangi berat badan dan merasa tetap bugar.
5. Berpuasa berarti menghemat uang (membeli lebih sedikit makanan!)
6. Berpuasa berarti menghemat waktu (melewatkan waktu makan!) di mana semua orang serba sibuk dan tidak punya waktu luang.
7. Berpuasa membuat kita merasa bahagia (jika kita melewatkan hari puasa dengan berhasil.)
8. Berpuasa meningkatkan rasa disiplin diri sehingga kita dapat berbuat lebih banyak kebaikan kepada sesama.

MENGAPA KITA BERPANTANG? 
Ada dua alasan utama.
Pertama, sebagai kurban silih atas dosa-dosa kita. Kita melukai hati Tuhan dan sesama ketika kita berdosa.
Kedua, dan yang paling utama, kita melukai hati Tuhan dan sesama karena kita kurang dapat mengendalikan diri. Ketika kita tergoda untuk melakukan sesuatu yang jahat (atau tidak melakukan sesuatu yang baik). Kita jatuh dalam pencobaan karena kita tidak mempunyai kehendak yang kuat untuk melakukan yang baik.

Jika kalian ingin belajar mengendalikan diri, mulailah dari hal-hal yang kecil. Selama beberapa minggu berpantanglah sesuatu yang kalian sukai. Misalnya berpantang permen, atau berpantang menonton acara TV yang kalian sukai, atau berpantang pergi ke bioskop.

MENGAPA KITA BERPANTANG DAGING PADA HARI JUMAT?
Pada abad ke-4 sudah ada hukum Gereja tentang berpantang pada hari-hari tertentu. Dahulu setiap hari Rabu, Jumat dan Sabtu adalah hari-hari pantang. Sejak abad ke-12 pantang ditetapkan hanya pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat - untuk mengenang bahwa Yesus wafat pada hari itu. Pada tahun 1965 Paus Paulus VI mengijinkan Konferensi Para Uskup untuk menetapkan masa pantang dan puasa. Maka ditetapkan hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai masa puasa dan pantang serta setiap hari Jumat dalam Masa Prapaskah sebagai masa pantang.

Mengapa berpantang daging?
Banyak orang suka kelezatannya dan merasa kehilangan jika harus berpantang. Dulu peraturan pantang dan puasa orang-orang Kristen juga memasukkan susu dan telur sebagai pantangan. Pantang dan puasa menunjukkan rasa hormat akan ciptaan Tuhan dengan menggunakannya lebih hemat.

BAGAIMANA PERATURAN PANTANG & PUASA?
Sesuai dengan ketentuan Kitab Hukum Kanonik (Kanon No. 1249 - 1253) dan Statuta Keuskupan Regio Jawa No. 111, maka ditetapkan:

a. Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

b. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.

c. Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

Daftar Pastor

DAFTAR PASTOR YANG BERTUGAS DI PAROKI ST YOSEF DURI
No.
Nama Pastor
Tahun

Pastor Kepala Paroki/Pembantu
 Keterangan
1.
Pastor Furland, SX.


Kunjungan
2.
Pastor Laurensi S, SX.


Kunjungan
3.
Pastor Morini A, SX.


Kunjungan
4.
Pastor Larofa, SX.


Kunjungan
5.
Pastor Fanteli, SX.


Kunjungan
6.
Pastor Feraro, SX.


Kunjungan
7.
Pastor Sabino, SX.


Kunjungan
8.
Pastor Yosef F, SX
1972-1977
Pastor Pembantu
9.
Pastor Trepo Carlo, SX.
1978-1979
Pastor Kepala Paroki

10.
Pastor Orsi Albino, SX.
1979-1980
Pastor Kepala Paroki

11.
Pastor Bruno Orru, SX.
1980-1986
Pastor Kepala Paroki

12.
Pastor Grappoli M, SX.
1986-1992
Pastor Kepala Paroki

13.
Pastor FX. Hardiono H, Pr.
1992-1998
Pastor Kepala Paroki

14.
Pastor P Paskalis B, Pr.
1992-1994
Pastor Pembantu
15.
Pastor Surya Halim, Pr.
1996-1997
Pastor Pembantu
16.
Pastor Egi Fierra, Pr.
1997-1998
Pastor Pembantu
17.
Pastor Suparno, Pr.

Pastor Pembantu

18.
Pastor Florianus W. W, Pr.
1998-2002
Pastor Kepala Paroki

19.
Pastor Martinus Suparjiyo, Pr.
2002- 2014
Pastor Kepala Paroki

20.
Pastor Tupen Belo, Pr.

Pastor Pembantu

21.
Pastor Emilius S, Pr.
2007-2009
Pastor Pembantu
22.

Pastor Wilfridus Yodi, Pr.
2009-2012


23.
Pastor Bartolomeus, Pr.
2009-2011


24.
Pastor Adrianus B. M, Pr
2011-2017
.

25.
Pastor Toto, Pr.


Kunjungan
26
 Pastor Otto Hasugian, Pr
2014- Sekarang
Pastor Kepala Paroki


Shalom
Admin Web St Yosef Duri

Kisah inspiratif di balik rekonsiliasi konflik Ambon

 03/03/2014
Kisah inspiratif di balik rekonsiliasi konflik Ambon thumbnail

Seorang ustad mempertaruhkan nyawanya, mengambil alih mimbar di Masjid Raya Al-Fattah Ambon dan menyampaikan kotbah damai, bukan khotbah ajakan kekerasan.
Meskipun mendapat ancaman dari kelompok yang bersebarangan dan fanatik, sang ustad berperan penting dalam rekonsilasi konflik Ambon.
Ini adalah salah satu cerita inspiratif dari buku “Carita Orang Basudara“, sebuah  buku yang ditulis dari kisah-kisah rekonsiliasi kasus Ambon.
Ihsan Ali Fauzi menceritakan hal ini dalam acara Agama dan Masyarakat, yang diadakan di Radio KBR68H sebagai narasumber dalam acara tersebut, Rabu (26/2).
Kerusuhan di antara Islam dan Kristen di Ambon meletus sudah 15 tahun lalu. Lembaga KontraS mencatat sedikitnya 1.300 korban tewas dan 270-an luka parah.
Setelah 15 tahun, proses kerusuhan dan rekonsiliasi sudah terjadi, maka sebuah buku baru yang mengisahkan konflik dan rekonsiliasi Ambon, berjudul “Carita Orang Basudara” diterbitkan oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) bersama Lembaga Antar Iman Maluku.
Buku ini berisi 26 tulisan dari 26 orang penulis asal Maluku dengan berbagai latar belakang profesi.
Kisah selanjutnya muncul dari Irfan Ramli alias Ibeng, salah seorang tokoh pemuda Maluku. Menurutnya, saat konflik pertama kali pecah 15 tahun silam, usianya baru 10 tahun.
“Meski demikian saya sudah tidak lagi merasa sebagai anak kecil. Konflik memaksa saya harus bersikap layaknya orang dewasa,” ujarnya.
Menurut Ibeng, provokator dalam konflik Ambon awalnya menggunakan isu ras untuk memancing pecahnya konflik.
“Tapi itu tidak mempan karena warga Ambon sudah merasa bersaudara dengan pendatang. Sudah banyak yang kawin silang, sehingga masyarakat tidak terlalu terkotakkan dengan isu ras atau suku,” kata dia.
“Itu karena dasarnya warga Ambon itu agamis. Hari Jumat jalan-jalan sepi karena umat Muslim ke masjid, sedangkan hari minggu juga demikian karena warga Kristen pergi ke gereja,” ungkap Ibeng.
Ibeng menambahkan, sebenarnya banyak kalangan di Ambon saat masa konflik yang ingin berdamai, namun harus diakui hal ini luput dari pemberitaan media, dan kurang berperan.
“Ada ratusan LSM yang mencoba menyatukan kedua belah pihak, mesi caranya tidak langsung,” ujar Ibeng.
Salah satu caranya adalah dengan menyasar anak kecil di sekolahan. “Mereka kerap membuat perlombaan yang melibatkan kedua belah pihak. Intinya supaya mereka saling bertemu dan mengenal lebih jauh satu-sama lain,” ujar Ibeng.
Sejak lama masyarakat Maluku memiliki slogan Pela Gandong yang merupakan suatu sistem hubungan sosial berupa suatu perjanjian baik antara penduduk pribumi dan pendatang, sekalipun berbeda keyakinan. Sistem sosial tersebut membuat Maluku menjadi daerah yang tenteram.
Namun, Pendeta Albertus Patty menilai konsep Pela Gandong belum teruji betul. “Benih-benih kebencian justru tersamarkan atas nama perjanjian Pela Gandong,” ujarnya.
Meski sempat gagal, menurut Albertus masyarakat tidak usah menampik sejarah. “Biarlah sejarah menjadi pelajaran buat kita,” ujarnya.
Konflik Ambon memang sempat akan kembali mencuat pada 2011. Hal tersebut menurut Ihsan Ali Fauzi, sangat mungkin terjadi karena masyarakat masih dibesarkan dalam cerita parsial soal kebencian.
“Dulu memang banyak media massa tidak menampilkan berita yang utuh. Bahkan memihak salah satu kubu,” kata Ihsan.
Saat konflik berlangsung, sejumlah pihak sadar dengan independensi media di Ambon yang sudah tidak bisa dipercaya. “Oleh karena ini kami membentuk gerakan Kopi Badati. Kami menyebutnya provokator perdamaian,” tegas Ihsan.(portalkbr.com)

Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2014/03/03/kisah-inspiratif-di-balik-rekonsiliasi-konflik-ambon/

Paus menulis surat kepada keluarga Katolik di seluruh dunia

 27/02/2014
Paus menulis surat kepada keluarga Katolik di seluruh dunia thumbnail

Paus Fransiskus menulis surat kepada keluarga-keluarga Katolik dalam rangka sinode di Vatikan pada Oktober mendatang.
“Keluarga-keluarga yang terhormat, melalui surat ini, saya berharap surat ini sampai ke rumah Anda. Surat ini berisi tentang sebuah peristiwa yang akan berlangsung di Vatikan pada Oktober mendatang. Ini adalah Pertemuan Umum Luar Biasa dari Sinode Uskup, yang membahas tema “Tantangan Pastoral bagi Keluarga dalam Konteks Evangelisasi.”
Dalam suratnya, yang diterjemahkan ke dalam 8 bahasa termasuk Arab, Jerman dan Polandia, Paus Fransiskus memperingatkan bahwa “Gereja dipanggil untuk mewartakan Injil dengan menghadapi kebutuhan pastoral yang baru dan mendesak yang dihadapi keluarga.”
Paus Fransiskus menjelaskan sinode mendatang sebagai “pertemuan penting” yang “akan melibatkan semua Umat Allah – uskup, imam, religius pria dan wanita, serta umat awam dari Gereja-gereja partikular di seluruh dunia – yang semuanya aktif berpartisipasi dalam persiapan untuk pertemuan melalui saran-saran praktis dan dukungan doa.”
Paus Fransiskus meminta keluarga-keluarga berdoa untuk pertemuan di Vatikan tersebut, yang menekankan  panggilan dan misi Gereja dalam masyarakat Anda, tantangan pernikahan, kehidupan keluarga, pendidikan anak-anak, dan peran keluarga dalam kehidupan Gereja.”
“Karena itu saya meminta Anda berdoa kepada Roh Kudus, sehingga Roh Kudus dapat menerangi Bapa-Bapa Sinode dan membimbing mereka dalam tugas penting mereka. Seperti yang Anda ketahui, Sinode Luar Biasa ini akan dilanjutkan setahun kemudian dengan Sidang Biasa, yang juga akan memilih tema tentang keluarga. Dalam konteks itu, juga akan ada Pertemuan Dunia tentang Keluarga yang berlangsung di Philadelphia pada September 2015,” lanjut Paus.
“Semoga kita semua berdoa bersama sehingga melalui acara ini Gereja akan terus melakukan perjalanannya dan mengadopsi sarana pastoral yang diperlukan untuk membantu keluarga menghadapi tantangan saat ini dengan cahaya dan kekuatan yang berasal dari Injil.”
“Dalam perjalanan Anda sebagai sebuah keluarga, Anda berbagi begitu banyak momen indah: makanan, istirahat, pekerjaan rumah tangga, rekreasi, doa, perjalanan dan ziarah, serta waktu saling mendukung … Namun, jika tidak ada cinta maka tidak ada sukacita.”
“Cinta otentik datang kepada kita dari Yesus. Dia menawarkan kepada kita firman-Nya, yang menerangi jalan kita, ia memberi kita roti hidup yang mendukung kita dalam perjalanan kita,” katanya.
“Keluarga yang terhormat, doa untuk Sinode Para Uskup akan menjadi harta berharga yang memperkaya Gereja. Saya berterima kasih, dan saya meminta Anda untuk berdoa juga bagi saya, sehingga saya dapat melayani Umat Allah dalam kebenaran dan cinta,” kata Paus menutup suratnya.
Sumber: UCA News